Selasa, 25 Agustus 2009

BALI'S PARADISE

BALI’S PARADISE


BALI’S PARADISE
Posted in 1 by yogaparta on the November 18, 2008
I Wayan Seriyoga Parta

Dalam perkembangan seni rupa Bali kini sedang muncul riak-riak baru, yaitu kecenderungan seni lukis realistik yang umumnya digeluti oleh para seniman muda, seperti; Ngakan Made Ardana, I Wayan Suja, Gede Puja, Putu Sumiantara, Made Dodit Artawan, Ketut Moniarta, Dewa Gede Rata Yoga, Agung Darmayuda, Tatang BSP, Cundrawan, I Wayan Hendra Kusuma, Wayan Pastika, dan I Wayan Rediasa, Nyoman Wijaya, Agus Cahaya, Made Alit Suaja mereka berempat masuk dalam 17 finalist Akili Museum Art Award (AMAA) 2008 yang acara pengumuman pemenangnya dilaksanakan pada tgl. 27 Agutus 2008, yang diumumkan langsung Oleh Rudi Akili di Museumnya di Jakarta.
AMAA 2008 terdiri dari lima orang tim juri yaitu; kritikus seni Jim Supangkat, pelukis Chusin Setiadikara, pengamat seni Suwarno Wisetrotomo, kurator Rizki Zaelani, dan Kuss Indarto. Menetap dua seniman muda dari Yogyakarta Agus Triyanto BR dan Setyo Priyo Nugroho sebagai pemenang. Dalam acara tersebut digelar pameran yang bertajuk From Cam to Com menampilkan karya 17 finalis bersama delapan pelukis realis lainnya antara lain; Chusin Setiadikara, Dede Eri Supria, Mangu Putra, Ronald Manulang, dan Gede Mahendrayasa. Menurut Jim Supangkat, seperti dikutif Ilham Khoiri dalam tulisannya di kompas Minggu 31 Agustus 2008 menyatakan; seni realistik muncul kembali dalam perkembangan seni rupa kontemporer untuk mengangkat budaya pop. Karya realistik yang berangkat dari bantuan fotografi dan komputer dapat digarap dengan kepekaan dan kecermatan sehingga menghasilkan bahasa ungkapan.
Berkaitan dengan persoalan tersebut, dan menyimak perkembangan seni rupa Bali dalam rentang tahun 2005 hingga sekarang telah muncul beberapa kali pameran yang menampilkan karya-karya realis dari seniman muda, diantaranya, pameran “Narasi Relistik” 2004 Klinik Seni Taxu Art Space, “Membaca Realisme” 2005, Nava Gallery Denpasar, hingga pameran “Cosmetic Culture” Kendra Gallery of Contemporary Art Seminyak Bali, pameran yang dibuka dari tgl 9 Agustus dan masih berlangsung hingga 18 September 2008 dikuratori oleh Hardiman. Pameran ini memakai label “realism in Bali”. Kehadiran beberapa pameran tersebut dan nama-nama seniman yang menekuni realis seperti yang telah disebutkan tadi, mungkin hanya beberapa dari kecenderungan yang kini sepertinya juga semakin menggejala pada seniman muda lainya di Bali atau seniman Bali yang tinggal di Yogyakarta atau di daerah lainnya.
Masifnya kecenderungan realis dilakoni oleh seniman muda Bali memunculkan pertanyaan apakah ini dapat dibaca sebagai tanda-tanda “baru” seni kontemporer Bali ?
Pada tahun 1990-an di Bali muncul kecenderungan seni lukis abstrak-yang mengangkat ikon-ikon kultural Bali dengan tokohnya Nyoman Erawan. Namun dalam fase berikutnya seiring dengan pertumbuhan seni realis oleh seniman muda Bali. Ternyata memberi daya ganggu pada sosok Erawan, hal ini dapat ditengarai dari karya-karyanya dalam pameran E-Motion di Galeri Nasional dalam rangka memperingati lima tahun majalah Visual Arts, menunjukkan suatu pergerakan. Dengan sangat hati-hati Erawan mulai memasukkan rupa realistik dalam lukisannya, setelah seni abstraknya di “sabotase” oleh Gede Mahendrayasa dengan “abstrak realisnya”. Erawan sebagai individual-kreatif sepertinya dirundung kegelisahan, dan tentunya kegelisahan sangat penting bagi seniman “besar” seperti Nyoman Erawan yang pada masanya dinobatkan sebagai “master” dalam seni rupa Bali.
Sejarah menunjukkan bahwa, posisi seniman sebenarnya berada dalam kondisi yang labil jaman senantiasa terus berjalan dan tantangan terbesar seniman adalah bagaimana menyikapi perkembangan tersebut. Apalagi membawa beban berupa citra “besar” yang telah dibentuk sebelumnya, jelas akan muncul dilema antara mempertahankan citra yang telah melakat dan keinginan untuk selalu menyesuaikan diri dengan pergerakan jaman. Eksistensi Erawan saat ini benar-benar sedang diuji, apakah dia akan tunduk pada pencitraan itu ? atau..? Mungkin kelahirannya sebagai “master” pada masa lalu terlampaui “mudah”, sehingga membuatnya terlalu “nyaman”. Munculnya kecenderungan baru dari seniman muda Bali bisa dimaknai sebagai sebuah tantangan bagi eksistensi seorang Erawan.
Jika kini kemudian hadir kecenderungan rupa realis di Bali sangat beralasan, dan dapat ditarik benang merah dengan perkembangan seni rupa Bali sebelumnya. Jika ditelisik lagi kebelakang, seni realis sudah mengakar dalam seni rupa Bali, hal ini dapat dilihat mulai dari kelahiran seni lukis asuhan Pitamaha, seniman Ubud menyerap anatomi plastis dari lukisan W. Spies dan R. Bonnet. Kemudian melahirkan seniman seperti: I Gusti Nyoman Lempad, I Dewa Sobrat, I Dewa Meregeg, dan beberapa seniman lainnya walaupun penyerapan mereka hanya sebatas anatomi semata, namun hasil penyerapan tersebut memberi nafas baru seni rupa klasik pewayangan Bali. Kemudian yang kerap luput dalam pembahasan, adalah hadirnya Sanggar Pejeng pimpinan pelukis Dullah yang mengajarkan seni lukis realis, juga pernah hadir di Bali. Dilanjutkan dengan sanggar Kamboja Denpasar. Sanggar Senin Kamis di Sanur asuhan pelukis Chusin Setyadikara yang melahirkan Agus Cahaya dan kawan-kawan yang sebagian menjadi finalis dalam AMAA 2008 yang telah dibahas diawal tulisan. Hingga kelahiran Klinik Seni Taxu yang pada akhirnya memilih rupa realis sebagai ideom estetik dalam perjalanan eksistensi mereka dalam medan seni rupa Indonesia
Seni Rupa Bali kini sedang mengalami masa yang dinamik, kecenderungan ini bisa dibaca sebagai salah satu tanda kebangkitan seni rupa kontemporer Bali.
















Bila Anda menghadiri festival candi di Bali, telinga Anda akan dipenuhi dengan manis dan merdu suara dari kakawin singers. Skala upacara di Bali dapat diukur oleh tampilan kakawin singers grup. J skala besar upacara biasanya menggunakan layanan lebih dari satu grup kakawin singer (pesantian). By the way, apakah kakawin?
Utsawa Dharma Gita di The Annual Bali Arts Festival 2006
Kakawin adalah satu bentuk puisi lama Jawa dengan meter yang berasal dari India. Mereka terdiri dan dilaksanakan di Jawa dan Bali dari abad ke 8 sampai sekarang (masih banyak dilakukan di Bali tapi tidak di Jawa).
J kakawin bait terdiri dari empat baris. Setiap baris memiliki menetapkan jumlah syllables per baris, terletak pada pola lama dan singkat syllables Sanskrit berdasarkan aturan prosodi. Sebuah kata yang mengandung vokal yang panjang disebut guru (Sanskrit untuk "berat '), sementara suku kata singkat yang berisi satu disebut laghu (Sanskrit untuk" terang "). Istilah guru laghu menandakan struktur baris.
Utsawa Dharma Gita di The Annual Bali Arts Festival 2006
Utama Kakawin adalah tema cinta dan perang walaupun banyak nilai-nilai moral dan agama konsep terpasang di sana-sini oleh penulis. Karakter pada kakawin adalah terutama allah, pahlawan dan iblis dimana hubungan manusia, yang ilahi dan kejam menyilang. Sebagian besar dari mereka berasal kakawin cerita dari epik Mahabharata, terutama petualangan dari lima Pandawa bersaudara, Yudhisthira, Bhima, Arjuna dan Nakula dan Sahadewa twins, dan mereka berperang melawan mereka yang cousins Korawa. Beberapa kakawin didasarkan pada epos Ramayana. Kemudian membawa banyak inovasi baru sebagai sumber daya untuk kakawin, seperti Babad (sejarah), Panji cerita, fabel, dan baru terdiri moral cerita.
Utsawa Dharma Gita di The Annual Bali Arts Festival 2006
Suatu kelompok orang yang disebut pesantian, kini, the kakawin di Bali. Lainnya di Bali sebagai bentuk seni performa, Kakawin dinyanyikan adalah menggunakan Kawi (lama Jawa) bahasa, penerjemah disediakan menerjemahkan kalimat Kawi tinggi atau menengah ke Bali. Festival candi pada kinerja Pesantian ini tidak pernah dibayar, kinerja mereka adalah pelayanan kepada Allah. Dalam rumah tangga seperti upacara perkawinan atau kremasi adalah layanan mereka dihargai oleh sejumlah korban bernama PERAS, lagi kinerja mereka dianggap sebagai pelayanan kepada masyarakat.
Utsawa Dharma Gita di The Annual Bali Arts Festival 2006
Pemerintah atau swasta biasanya memegang kakawin bernyanyi kompetisi (utsawa dharma Gita). Selalu ada setiap bulan kompetisi di Bali terutama di Bali Arts Festival. Meskipun ada perkembangan pesantian meningkat pesat di Bali, tetapi sebagian besar adalah singers dewasa (lebih dari 30 tahun), generasi muda khususnya remaja adalah keengganan untuk bergabung dengan pesantian. The stigma "kakawin adalah untuk orang tua" sangat melekat dalam fikiran kebanyakan remaja Bali. J yg disesalkan situasi untuk kontinuitas dari pesantian.







POKOK POKOK AJARAN HINDU DHARMA

> Pokok-pokok...> Hindu Dharma
Sejarah dan Perkembangannya
1. Awal Perkembangan Agama Hindu

Agama Hindu berasal dari India. Untuk mengetahui sejarah perkembangannya haruslah juga dipelajari sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek kebudayaannya dari jaman ke jaman. Berdasarkan penelitian usia kitab- kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang pada sekitar 6.000 tahun sebelum tahun Masehi. Sebagai agama tertua, agama Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.

2. Penduduk India

Penduduk asli yang mendiami India sekarang bermukim di daerah dataran tinggi Dekkan. Kehidupannya masih sangat sederhana.Bangsa Dravida berasal dari daerah Asia Tengah (Baltic) masuk ke India dan mendiami daerah sepanjang sungai Sindhu yang subur. Kebudayaan mereka lebih tinggi dari penduduk asli. Bangsa Arya juga berasal dari daerah sekitar Asia Tengah, menyebar memasuki daerah- daerah Iran (Persia), Mesopotamia, dan juga masuk ke daerah Eropa. Yang sampai masuk ke India adalah merupakan bagian dari yang pernah masuk ke Iran. Mereka masuk ke India dalam dua tahap di dua tempat yang berbeda. Pertama mereka masuk di daerah Punjab yaitu daerah lima aliran anak sungai yang disambut dengan peperangan oleh bangsa Dravida yang sudah lebih dulu bermukim di sana. Karena bangsa Arya lebih maju dan lebih kuat, Bangsa Dravida dapat dikalahkan. Tahap kedua Bangsa Arya masuk ke India melalui daerah dua aliran sungai yaitu lembah sungai Gangga dan lembah sungai Yamuna, daerah ini dikenal dengan nama daerah Doab. Kedatangan mereka tidak disambut peperangan, bahkan kemudian terjadi percampuran melalui perkawinan. Bangsa- bangsa inilah yang menjadi nenek moyang bangsa India sekarang.

3. Jaman Weda

Telah diketahui bahwa bangsa yang datang kemudian di India adalah bangsa Arya yang mendiami dua tempat yaitu di Punjab dan Doab. Di kedua daerah tersebut mereka berkembang dan mengembangkan peradabannya. Dikatakan bahwa orang- orang Aryalah yang menerima wahyu Weda. Wahyu- wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (sru= pendengaran). Kurun waktu turunnya wahyu- wahyu Weda itulah yang disebut jaman Weda dan ajaran Weda inilah yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia.

4. Penyebaran Agama Hindu

Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini "Maitra Waruna" yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi.Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari India.Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orang- orang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan "Aztec" yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini.Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saat- saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata "Inca" berasal dari kata "Ina" dalam bahasa Sanskerta yang berarti "matahari" dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya.Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park).Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda "Tri Kuta" atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu.

5. Agama Hindu di Indonesia

Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa- sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di Jawa Barat.Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Raja- raja Hindu ini dengan para alim ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran di Jawa di antaranya Candi Prambanan, Borobudur, Penataran, dan lain- lain, pura- pura di Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca- arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti- bukti nyata sampai saat ini. Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma (karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka "Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa") adalah merupakan warisan- warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha). Raja Jayanegara sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha. Adapun upacara Sradha pada waktu itu yang paling terkenal adalah mendharmakan atau mencandikan para leluhur atau raja- raja yang telah meninggal dunia (amoring Acintya). Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan Dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada akhirnya disebut Nyadran.Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja- rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik. Ini jelas merupakan nilai- nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai- nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih tetap merupakan nilai- nilai positif bagi pewaris- pewarisnya khususnya umat yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca Sradhanya.Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta- pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya yang berAsrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliaulah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan membawa pengikut sebanyak ± 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami kegagalan.Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut ± 2.000 orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro. Pura ini diberi nama Pura Murwa yang berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula- mula disebut Pura Basuki.Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan agama Hindu di pulau Bali.Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Saka (880 Masehi) dan prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Saka (914 Masehi) daerah Bali diperintah oleh raja- raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama Singamandawa. Raja- raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik, pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun. Mulai saat inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah, Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/ Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.Sewaktu kerajaan Majapahit runtuh keadaan di Bali sangat tenang karena tidak ada pergolakan agama. Pada saat itulah datang seorang Empu dari Jawa yang bernama Empu Dwijendra dengan pengikutnya yang mengembangkan dan membawa pembaharuan agama Hindu di Bali. Dewasa ini, terutama sejak jaman Orde Baru, perkembangan Agama Hindu makin maju dan mulai mendapat perhatian serta pembinaan yang lebih teratur.